Sarana dan prasarana pendidikan adalah merupakan sarana yang tidak berdiri sendiri di suatu wilayah. Sarana pendidikan tersebut pasti akan terkait, terpengaruh atau mempengaruhi fasilitas – fasilitas sarana prasarana non pendidikan yang lain secara spasial. Dalam membuat sebuah perencanaan sebuah kota misalnya, dalam menentukan letak / lokasi sarana dan prasarana harus mempertimbangkan efisien, efektif dan dampak dari penentuan sebuah lokasi.
Selain itu dalam menentukan lokasi sarana pendidikan juga harus mempertimbangkan pengembangan wilayah, kedudukan lokasi sarana pendidikan terhadap sarana perkotaan lainnya, fasilitas pendukung , akses, transportasi dll. Lokasi suatu sarana pendidikan sangat erat kaitannya dengan jalan yang merupakan jalur transportasi yang menghubungkan antara sarana pendidikan tersebut dengan lokasi-lokasi tertentu di sekitarnya. Dalam hal ini jalan yang menghubungkan antara sarana pendidikan dengan lokasi tersebut haruslah berdaya guna dan berhasil guna serta mampu menampung seluruh volume kendaraan yang ada serta dapat digunakan oleh para pengguna jalan dengan nyaman.
Kamis, 24 Januari 2008
KAJIAN LOKASI SEKOLAH
KAJIAN JENIS SEKOLAH PADA KAWASAN KUMUH
Kondisi kota di Indonesia berkembang pesat dan berfungsi sebagai pusat kegiatan, yang dilengkapi dengan penyediaan layanan primer maupun sekunder. Kondisi ini mendorong penduduk dari daerah lain maupun pedesaan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di pusat - pusat kegiatan. Perpindahan ke pusat-pusat kegiatan ini mengakibatkan munculnya kawasan-kawasan permukiman yang tidak layak huni. Kemunculan kawasan yang tidak layak huni bahkan menjadi kumuh, tersebut disebabkan oleh pertambahan penduduk yang lebih cepat dibandingkan dengan kemampuan pemerintah dalam menyiapkan hunian dan pelayanan primer lainnya seperti air bersih dan sanitasi. Pertumbuhan yang terlalu cepat khususnya pada masyarakat yang berpenghasilan rendah sehingga menimbulkan kemiskinan yang mengakibatkan penguasaan lahan-lahan kota secara liar.
Pada umumnya kemiskinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendapatan dan sumber daya produktif yang menjamin kehidupan dan kesinambungan. Hal itu ditandai dengan kerentanan, ketidak berdayaan, keterisolasian dan ketidakmampuan untuk menyampaikan aspirasi. Kemiskinan yang demikian ini disebut sebagai kemiskinan struktural yang dikarenakan akibat perbedaan perolehan hasil pembangunan (inequality). Kendatipun demikian, kemiskinan tidak melulu berkaitan dengan masalah kesejahteraan masyarakat, namun juga terkait dengan aspek lainnya seperti akses-akses kepada infrastruktur dasar dan peluang kerja.
Kondisi tersebut mengakibatkan beberapa persoalan sosial seperti rendahnya kualitas dan produktivitas sumber daya manusia, tingginya beban sosial ekonomi masyarakat, rendahnya partisipasi masyarakat, menurunnya ketentraman umum, menurunnya kepercayaan masyarakat kepada birokrasi, banyaknya anak putus sekolah dan kemungkinan merosotnya kualitas hidup generasi muda yang akan datang. Hal ini diperkuat dengan kenyataan terus merosotnya Indeks Pembangunan Manusia Indonesia dari 0,684 ke 0,682. Berdasarkan Human Development Report 2003 yang dikeluarkan oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), peringkat HDI Indonesia turun dari 110 ke 112 dari 175 negara (Laporan Pembangunan Manusia UNDP 2004). Di lingkungan negara ASEAN, peringkat Indonesia hanya lebih baik dari Kamboja, Myanmar dan Laos.
DARI KBK KE MBS
Dalam buku ini J. Drost, SJ berbicara tentang permasalah pendidikan di
BEBERAPA MASALAH YANG TERKAIT DENGAN MASALAH PENDIDIKAN
Prasarana dan sarana merupakan bangunan dasar yang sangat diperlukan untuk mendukung kehidupan manusia yang hidup bersama-sama dalam suatu ruang yang terbatas, agar manusia dapat bermukim dengan nyaman dan dapat bergerak dengan mudah dalam segala waktu dan cuaca, sehingga dapat hidup dengan sehat dan dapat berinteraksi satu dengan lainnya dalam mempertahankan kehidupannya (Depkimpraswil, 2002). Peran sarana dan prasarana adalah sebagai mediator antara sistem dan sosial dalam tatanan kehidupan manusia dengan lingkungannya.
Dalam dunia pendidikan kata kunci prasarana dan sarana adalah ”sekolah”. Karena pada kondisi formal sekolah merupakan pusat mediator terjadinya interaksi antara guru sebagai pengajar dan murid sebagai peserta belajar, disanalah diharapkan akan terjadi sebuah transfer ilmu pengetahuan dari guru sebagai nara sumber dan murid sebagai penerima ilmu.
Karena begitu pentingnya arti ”sekolah” maka dalam usaha menyediakan prasarana dan sarana pendidikan (sekolah), dituntut untuk lebih rasional, efektif, efisien dan berhati-hati dengan mempertimbangkan berbagai masalah yang akan muncul dan yang sudah muncul (kondisi eksisting) sebelum bahkan sampai berdirinya sebuah sekolah. Mengingat sekolah sebagai pusat interaksi antara beberapa komunitas pendidik, maka sangat dimungkinkan akan menjadi pusat berkumpulnya beberapa komunitas yang berasal dari berbagai wilayah disekitarnya atau bahakan jauh dari lokasi sekolah tersebut.
ANALISIS SPASIAL
Pada umumnya pada tiga dasawarsa terakhir ini kondisi kota di Indonesia berkembang pesat yang berfungsi sebagai pusat kegiatan, dan dilengkapi dengan penyediaan layanan primer maupun sekunder, yang mendorong penduduk dari daerah lain maupun pedesaan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di pusat - pusat kegiatan. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap kota-kota kecil disekitar pusat kota ikut menjadi lebih berkembang. Wilayah Jabodetabek yang memiliki luas 1764 km2 terdiri dari Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi dengan jumlah penduduk seluruhnya 17.889.920 jiwa, dimana Jakarta sebagai pusat kota dan Bogor, Tangerang dan Bekasi sebagai kota satelit, memiliki kaitan (interaction) yang sangat erat sekali. Hal ini disebabkan karena kota Jabodetabek yang pada umumnya jarak antar kota tidak terlalu jauh, yaitu hanya berkisar 30 – 60 km dari pusat kota terpengaruh dengan perkembangan kota Jakarta (distance), dan secara geofrafis, wilayah Jabodebatek berupa daerah dataran dan pegunungan yang saling berdampingan sehingga sulit untuk mengenali batas wilayah. Hal ini yang menjadikan terjadinya pergerakan (movement) elemen yang luar biasa dari pusat kota dan sebaliknya dengan kota-kota disekitar. Disamping masih banyaknya lahan yang dapat digunakan sebagai lahan hunian sehat di luar pusat kota, juga karena masih banyak para pekerja yang ada di Jakarta dan kota – kota lainnya yang tidak menetap di kota tersebut. Biasanya mereka sebagai penglaju (commuter).
ANALISIS PEMUKIMAN
Pada umumnya dalam tiga dasawarsa terakhir ini kondisi kota di Indonesia berkembang pesat yang berfungsi sebagai pusat kegiatan, dan dilengkapi dengan penyediaan layanan primer maupun sekunder, yang mendorong penduduk dari daerah lain maupun pedesaan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di pusat - pusat kegiatan. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap kota-kota kecil disekitar pusat kota ikut menjadi lebih berkembang. Demikian juga dengan sistem pemukiman yang terjadi pada suatu wilayah.
Adanya suatu populasi penduduk pada suatu wilayah perkotaan, adanya distribusi orde kota, rank size distribution serta atribut suatu wilayah pemukiman disuatu kota mempengaruhi sistem pemukiman yang ada. Selain adanya beberapa fasilitas yang terdapat dilingkungan pemukiman, fungsi dari masing-masing fasilitas serta peran dari masing-masing pusat pelayanan dalam sebuah sistem wilayah regional.
AKTIVITAS GUNA LAHAN
Sekolah Menengah Atas Negeri 68 Jakarta merupakan sekolah menengah atas unggulan di wilayah Jakarta Pusat. Dengan luas secara keseluruhan 3.213 m2. Lahan tersebut secara keseluruhan digunakan untuk bangunan seluas 957 m2, untuk lahan halaman seluas 1.569,30 m2, dan untuk kegunaan lapangan olahraga seluas 686,70 m2.
Sekolah ini berdiri sejak tahun 1981 yang menampung siswa sebanyak 518 siswa yang terdiri dari siswa kelas I sebanyak 296 siswa, siswa kelas II sebanyak 295 siswa dan siswa kelas III sebanyak 303 siswa. Sekolah ini juga memiliki kelas bertaraf internasional yang menampung 20 siswa.
Jumlah guru di SMAN 68 sebanyak 72 orang yang terdiri dari 55 guru tetap (PNS), 9 guru tidak tetap dan 8 guru bantu, dengan rata-rata pengalaman mengajar selama 26 tahun. Disamping terdapat 31 orang tenaga administrasi yang memiliki ijazah terakhir rata-rata SLTA.
Di Sekolah Menengah Atas Negeri 68 dilengkapi dengan 23 ruang teori, 1 ruang laboratorium audio, 1 laboratorium komputer, 2 ruang perpustakaan 1 ruang Usaha Kesehatan Sekolah, 9 ruang kantin, 2 koperasi, 1 ruang Bimbingan Konseling, 1 ruang kepala sekolah, 2 ruang guru, 1 ruang Tata Usaha, 1 ruang OSIS, 2 kamar mandi, 3 gudang, 1 rumah penjaga sekolah dan 1 green house.
