Kondisi kota di Indonesia berkembang pesat dan berfungsi sebagai pusat kegiatan, yang dilengkapi dengan penyediaan layanan primer maupun sekunder. Kondisi ini mendorong penduduk dari daerah lain maupun pedesaan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di pusat - pusat kegiatan. Perpindahan ke pusat-pusat kegiatan ini mengakibatkan munculnya kawasan-kawasan permukiman yang tidak layak huni. Kemunculan kawasan yang tidak layak huni bahkan menjadi kumuh, tersebut disebabkan oleh pertambahan penduduk yang lebih cepat dibandingkan dengan kemampuan pemerintah dalam menyiapkan hunian dan pelayanan primer lainnya seperti air bersih dan sanitasi. Pertumbuhan yang terlalu cepat khususnya pada masyarakat yang berpenghasilan rendah sehingga menimbulkan kemiskinan yang mengakibatkan penguasaan lahan-lahan kota secara liar.
Pada umumnya kemiskinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendapatan dan sumber daya produktif yang menjamin kehidupan dan kesinambungan. Hal itu ditandai dengan kerentanan, ketidak berdayaan, keterisolasian dan ketidakmampuan untuk menyampaikan aspirasi. Kemiskinan yang demikian ini disebut sebagai kemiskinan struktural yang dikarenakan akibat perbedaan perolehan hasil pembangunan (inequality). Kendatipun demikian, kemiskinan tidak melulu berkaitan dengan masalah kesejahteraan masyarakat, namun juga terkait dengan aspek lainnya seperti akses-akses kepada infrastruktur dasar dan peluang kerja.
Kondisi tersebut mengakibatkan beberapa persoalan sosial seperti rendahnya kualitas dan produktivitas sumber daya manusia, tingginya beban sosial ekonomi masyarakat, rendahnya partisipasi masyarakat, menurunnya ketentraman umum, menurunnya kepercayaan masyarakat kepada birokrasi, banyaknya anak putus sekolah dan kemungkinan merosotnya kualitas hidup generasi muda yang akan datang. Hal ini diperkuat dengan kenyataan terus merosotnya Indeks Pembangunan Manusia Indonesia dari 0,684 ke 0,682. Berdasarkan Human Development Report 2003 yang dikeluarkan oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), peringkat HDI Indonesia turun dari 110 ke 112 dari 175 negara (Laporan Pembangunan Manusia UNDP 2004). Di lingkungan negara ASEAN, peringkat Indonesia hanya lebih baik dari Kamboja, Myanmar dan Laos.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar